Trending

Fakta-fakta pegiat KPK diretas: Ada video porno, akun ojol cewek pun disikat

Pegiat antikorupsi mengumumkan akun media sosial mereka dibajak alias diretas. Peretasan ini dialami penyidik senior KPK, Novel Baswedan, mantan pimpinan KPK sampai mantan juru bicara KPK, Febri Diansyah. Atas pegiat KPK diretas, berikut sejumlah fakta-fakta pembajakan akun media sosial pegiat KPK.

Novel mengumumkan media sosialnya dibajak dan meminta publik untuk waspada apabila tiba-tiba akun media sosial itu aktif artinya itu bukan dari Novel. Sebab akun media sosial sudah di luar kendali saudara Anies Baswedan itu.

Akun pegiat KPK diretas

Novel Baswedan
Novel Baswedan Foto: Antara

Penyidik KPK, Novel Baswedan mengumumkan pembajakan akun media sosialnya melalui cuitan di Twitter.

“Pengumuman. Akun Telegram saya dibajak sejak pukul 20.22 WIB hari ini shg tdk lg dibawah kendali saya,” cuit Novel di akun Twitternya, Jumat 21 Mei 2021.

Nah ternyata, bukan cuma Novel Baswedan saja lho. Akun Telegram pegawai KPK lainnya, Sujanarko juga diretas.

“Akun Pak Sujanarko sejak pukul 20.31 WIB juga dibajak shg tdk dlm kendali ybs. Bila ada yg dihubungi gunakan akun tsb, itu bukan kami,” tulis Novel.

Sedangkan Febri Diansyah mengaku selain WhatsApp akun Telegramnya juga dibajak. Tapi belakangan dia memperbaharui informasi, beberapa kontak Febri sudah bisa mengontak WhatsAppnya.

“Saya dengar, WA/Tele sejumlah tmn yg advokasi antikorupsi jg mengalami hal yg sama. Smg ada keseriusan pihak yg berwenang utk memastikan perlindungan hak komunikasi dan data pribadi warga,” tulis dia.

Bukan itu saja lho, korban peretasan lainnya yaitu mantan pimpinan KPK Busyro Muqoddas dan Bambang Widjojanto, aktivis ICW, LBH dan Lokataru.

Mereka sebelumnya keras mengkritik soal TWK KPK sebagai proses alih status pegawai KPK menjadi ASN sesuai amanat UU KPK terbaru. Malahan serangan pembajakan pada aktivis ICW dan LBH terjadi pada Senin awal pekan ini lho.

Pola peretasan

Aplikasi WhatsApp dan Telegram. Foto: Beebom
Aplikasi WhatsApp dan Telegram. Foto: Beebom

ICW mencermati pola peretasan saat menggelar konferensi pers dengan delapan mantan pimpinan KPK terkait TWK KPK.

Dalam konferensi pers itu menggunakan zoom dan di situlah serangan terjadi. Polanya seperti ini

  1. Menggunakan nama para pembicara untuk masuk ke media zoom diskusi seputar antikorupsi
  2. Menggunakan nama para staf ICW untuk masuk ke media zoom
  3. Menunjukkan foto dan video porno di dalam ruangan zoom
  4. Mematikan mic dan video para pembicara
  5. Membajak akun ojek online Nisa Rizkiah puluhan kali guna mengganggu konsentrasinya sebagai moderator acara
  6. Mengambil alih akun WA kurang lebih 8 orang staf ICW. Sebagian nomor ada yang di-take over sebagian sudah berhasil dipulihkan. Sedang yang lainnya mengalami percobaan
  7. Beberapa orang yang nomor WA diretas sempat mendapat telepon dari Amerika Serikat dan puluhan panggilan dari Telkomsel
  8. Percobaan mengambil alih akun Telegram dan email beberapa staf ICW. Namun gagal
  9. Tautan yang diberikan kepada pembicara Abraham Samad tak bisa diakses tanpa alasan jelas

Serangan politik

Lambang KPK. Foto: Antaranews
Lambang KPK. Foto: Antaranews

Merespons insiden pembajakan akun sejumlah pegiat antikorupsi itu, Koordinator Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet), Damar Juniarto, mengatakan serangan peretasan tersebut dinamakan siber terarah atau Targeted Digital Attack.

Serangan yang menimpa pegiat antikorupsi ini, jelas Damar, beda dengan peretasan yang random. Lihat saja, target serangan itu terarah beda dengan peretasan random yang motifnya ekonomi. Nah dalam kasus peretasan Novel ini, Damay yakin, latarnya adalah masalah politik.

“Kalau targeted digital attack itu lebih banyak motifnya politik. Yang mengalami targeted digital attack ini high profile,” jelas Damar dikutip dari Suara.com, Jumat 21 Mei 2021.

Peretasan bermotif politik pernah terjadi pada 2019 dan biasanya pola serangan ini muncul berbarengan dengan momentum politik.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close